Soekarno

"Gantunglah mimpimu setinggi-tingginya, agar bila engkau jatuh nanti kau masih jatuh diantara bintang2."

 Paulo Freire

“Leaders who do not act dialogically, but insist on imposing their decisions, do not organize the people–they manipulate them. They do not liberate, nor are they liberated: they oppress.”

 Label Ma Yan

“Ketika kami tidak mengerjakan ujian dengan baik, guru akan mencerca kami, dan mengeluh bahwa ia mengajar kelas berisi siswa-siswa idiot yang tidak berguna. Guru, seharusnya Anda tidak meremehkan kami, karena kegagalan kami adalah awal keberhasilan”

 Helbert Hoover

"Berbahagialah generasi muda, karena merekalah yang akan mewarisi hutang bangsa."

Sabtu, 18 Februari 2012

#2 KAMISAN: Pendidikan Sebagai Proses

Sabtu, 18 Februari 2012 |
Guinea Bissau, negara yang kini berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa bukanlah yang pertama untuk dikunjungi bagi seorang Paulo Freire. Ia lebih dulu mengenal Tanzania, jauh sebelum ia datang ke Guinea Bissau untuk sebuah proyek pendidikan. Afrika memiliki kenangan tersendiri buat Freire, ia selalu merasa pulang ke kampung halaman setiap kali menginjakkan kaki di Afrika. Alamnya yang bersahabat serta penerimaan penduduk lokal terhadap kehadiran  seorang pedagog humanis yang justru terbuang dari negara asalnya, Brazil, ketika kudeta militer berhasil menguasai negara tropis itu.

Pada September 1975, Freire untuk pertama kalinya datang ke Guinea Bissau bersama dengan tim dari IDAC (Institute for Cultural Action) dan orang-orang dari Dewan Gereja se-Dunia. Pemerintahan baru Guinea Bissau_yang kala itu baru merdeka dari Portugal_meminta bantuan Freire untuk terlibat dalam proyek rekonstruksi nasional khususnya dalam bidang pendidikan.

Freire amat senang dan bangga atas undangan itu. Namun, ia sadar bahwa yang mereka hadapi bukanlah masyarakat biasa melainkan masyarakat yang memiliki kenangan sejarah kelam atas sebuah penjajahan. Mereka bukan bangsa peminta-minta tetapi bangsa yang memiliki militansi tinggi dalam memperjuangkan pembebasan bagi negerinya.

Program yang ingin dijalankan oleh Freire dan timnya adalah pemberantasan buta huruf bagi orang dewasa. Namun, sebelum mengambil keputusan untuk terlibat lebih jauh dalam program itu Freire mengatakan pada Mario Cabral, ketua komisi pendidikan Guinea Bissau bahwa mereka tidak akan mengajar di sana bila mereka belum belajar mengenai Guinea Bissau. “Dengan alasan ini kami ingin pergi ke Guinea Bissau sebagai teman, sebagai orang yang militan, yang ingin tahu namun rendah hati, bukan sebagai teknisi asing dengan misi tertentu…”[1]

Ada yang menarik dalam perbincangan Freire dengan Mario Cabral lewat surat tersebut. Freire menyinggung istilah “membantu-dibantu” yang biasa dipergunakan oleh dua pihak (negara) yang sedang melakukan hubungan kerja sama. Freire enggan menggunakan istilah tersebut bila pemaknaan membantu-dibantu mengalami pendistrosian. Bagi Freire konsep membantu-dibantu harus dibarengi dengan sikap saling memahami permasalahan kedua belah pihak. Dalam kasus Guinea Bissau berarti korban penjajahan. Freire meminta timnya untuk belajar merasakan menjadi masyarakat Bissau yang telah bertahun-tahun mengalami penindasan. Ini ia lakukan untuk menghindari budaya pendominasian dalam pendidikan.

Guinea Bissau memiliki latar belakang sejarah penindasan yang panjang. Sejak tahun 1446 Guinea Bissau sudah dikuasai oleh Portugal yang kala itu berhasil menguasai perdagangan di kepulauan Cape Verde. Hingga tahun 1879 ketika kepulauan Cape Verde mengalami keretakan secara politis, Guinea Bissau masih menjadi salah daerah jajahan di Afrika. Lalu pada tahun 1956 mulailah muncul gerakan kemerdekaan yang dipelopori oleh Amiral Cabral. Perjuangan Amiral Cabral dan rakyat Guinea Bissau menggapai kebebasan akhirnya berhasil didapatkan pada tahun1974 melalui perjuangan militer.

Pasca kemerdekaan, layaknya negara baru. Guinea Bissau mulai mempersiapkan proyek pembangunan. Salah satu misinya adalah dalam bidang pendidikan. Bersama dengan PAIGG, sebuah organisasi pembebasan yang dibentuk Amiral Cabral, Freire dan timnya terlibat rekonstruksi sistem pendidikan di negara itu.

Tantangannya cukup berat sebab ia harus berhadapan dengan kultur masyarakat yang militan namun masih memiliki memori penindasan yang kental yang ditinggalkan oleh penjajah Portugal. Dalam bidang pendidikan misalnya, para penjajah mewariskan sistem pendidikan yang bertujuan untuk mende-Afrikanisasi masyarakat. Sistem pendidikan kolonial ini tidak lain kecuali menciptakan anak-anak yang dengan ideologi penjajah, yakni : inferior, tidak memiliki kemampuan dan bercita-cita menjadi “putih”. (Paulo Freire: 1975). Potugal mengajarkan bahwa sejarah Guinea Bissau dimulai dengan kehadiran dirinya untuk menjadikan mereka lebih beradab. Sistem pendidikan semacam ini dilawan oleh Amiral Cabral dan beberapa orang Guinea Bissau yang berjuang merebut kemerdekaan. Mereka menyebutnya dengan istilah re-Afrikanisasi mentalitas.

Pengalaman paling berkesan berkaitan dengan warisan jajahan ini bagi Freire adalah ketika meniliti mengenai guru-guru yang bekerja sebagai pengajar di sekolah. Salah satu yang dilakukan Freire dalam merubah pendidikan colonial adalah melatih guru-guru baru dan melatih ulang guru-guru yang lama. Problema yang dialami guru-guru lama adalah masih seringnya mereka terjebak dalam ideology lama yang diciptakan penjajah dan secara tidak sadar memegang erat ideology itu sebagai landasan pengajarannya.

Bagi Freire guru-guru seperti inilah yang akan merusak misi pendidikan yang baru. Namun Freire beruntung karena masih ada guru-guru yang memiliki pandangan baru terhadap sistem pendidikan lama yang menindas. Dalam istilah Freire, guru semacam ini rela melakukan bunuh diri kelas (commit class suicide).

Pemberantasan Buta Huruf

Freire selalu mengatakan bahwa pemberantasan buta huruf tidak bisa dianalogikan seperti memberantas wabah penyakit. Kaum tertindas dan mereka yang secara umum dikebiri dalam konteks kelas sosial merupakan obyek yang harus dientaskan, namun tetap diperlakukan sebagai obyek yang belajar menulis dan membaca. Seharusnya mereka diajak masuk ke dalam  sebuah proses belajar sehingga mereka lebih banyak tahu hal bukan sebagai orang yang mempelajari pengetahuan masa lalu.  Dari sudut pandang revolusi, mereka justru diajak berpikir dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi.

Sederhannya, Freire memiliki konsep bahwa belajar membaca teks berarti juga belajar membaca kehidupan sosial yang menjadi acuan teks tersebut.

Di Guinea Bissau ada dua pihak yang memiliki gagasan mengenai program pemberantasan buta huruf di kalangan orang dewasa. Yang pertama adalah Armed Force of the People (FARP) dan yang lainnya digagas oleh komisi pendidikan dari Departement of Adult Education. Namun, yang menarik kedua pihak ini memiliki pandangan yang sama terhadap program pemberantasan buta huruf. Bagi mereka, pemberantasan buta huruf dapat dilihat sebagai aksi politik di mana peserta didik, dengan pendekatan yang kritis belajar membaca dan menulis bukan dengan menghafal suku kata yang justru dapat mengasingkan mereka.

Secara umum buku ini jelas berbicara mengenai proses rekonstruksi yang dilakukan Freire bersama dengan masyarakat Guinea Bissau dalam merubah sistem pendidikan. Namun, bila dicermati lebih detail, pola-polanya mirip dengan yang terjadi di Indonesia ketika baru merdeka.

Indonesia kala itu memiliki konsep pendidikan yang lebih berpihak pada rakyat kecil dengan menggunakan isu-isu anti imperialisme dan menolak campur tangan asing walau pada akhirnya konsep itu pun “mati” dan kalah oleh kudeta bangsa sendiri yang akhirnya hingga kini tetap langgeng seperti sulit tergantikan.
Tokoh Amiral Cabral yang sangat dibanggakan oleh rakyat Guinea Bissau mungkin bisa disejajarkan dengan figur Soekarno dan Tan Malaka. Soekarno yang popular di mata rakyat Indonesia kala itu sebagai proklamator dan Tan Malaka yang memiliki gagasan cerdas soal pendidikan anti penjajahan. 

Data Buku
Judul Buku : Pendidikan Sebagai  Proses; Surat-menyurat Freire dengan para pendidik di Guinea   Bissau

Penulis       : Paulo Freire

Terbitan     : Pustaka Pelajar

Meniti Jejak Pedagogi Kritis di Tanah Afrika
 



[1] Surat ke dua Paulo Freire kepada Mario Cabral pada April 1975
*dibedah pada kegiatan kamisan #2 Pustaka 303 Transformasi UNJ.




Related Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar anda dengan santun kami pun menerima kritik dan saran yang membangun demi kebaikan bersama. Terimakasih.

Tabloid Transformasi Edisi 49

 
Copyright © pustaka 303 | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog